• My Little Family
  • Gedung Marba yang ikonik di Kota Lama, Semarang - Jawa Tengah.
  • Pesona kabut menjelang sore di Danau Tondok, Kotamobagu - Sulawesi Utara.
  • Rehat sejenak di Mesjid Al-Falah Sragen yg terkenal dg pelayanan prima kepada Jamaah dan Musafir.
  • Mengisi liburan dengan memanjakan anak bermain Snow Word.

Senin, 27 Oktober 2014

Profil Singkat Kabinet " KERJA " Jokowi - JK

Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan kabinetnya, Minggu (26/10/2014), di Istana Negara, Jakarta. Ada empat menteri koordinator dengan 34 kementerian dan lembaga setingkat menteri. Nama kabinet Jokowi-JK adalah Kabinet Kerja:
"Dan pengumuman ini lebih cepat 8 hari dari batas maksimal 14 hari yang diatur oleh UU Kementerian Negara," kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, penyusunan Kabinet dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Hal ini, kata Jokowi, menjadi keutamaan karena kabinetnya akan bekerja selama lima tahun.
Berikut susunan Kabinet Kerja Jokowi-JK:
3. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
Disebut Pertama kali, Pratikno Ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Sekretaris Negara. Lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 13 Februari 1962. Jabatan terakhirnya adalah Rektor Universitas Gadjah Mada.
2. Kepala Bappenas: Adrinof Chaniago
Presiden Jokowi menunjuk Andrianof Chaniago sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Kabinet Kerja 2014-2019. Andrinof menggantikan Kepala Bappenas/Menteri PPN, Armida Alisjahbana, yang menjabat posisi ini pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2209-2014).
Andrinof, putera Sumatera Barat, Padang, yang lahir 3 November 1962 merupakan pengajar pada Departemen Ilmu Politik FISIP UI. Sebagai Kepala Bappenas terpilih, kapasitas dan latar belakang Andrinof dinilai memang memenuhi kriteria yang dibutuhkan.
Andrinof adalah ahli kebijakan publik dan perencanaan yang lulus dari Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dia juga pernah mengenyam pendidikan pada The National Development Courses dari Fu Hsing Kang College, Taipei, Taiwan, (2004).
3. Menteri Koordiantor Bidang Kemaritiman: Indroyono Susilo
Presiden Joko Widodo menunjuk Indroyono Soesilo sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pada Kabinet Kerja 2014-2019 dalam pengumuman 34 nama menteri dan dua wakil menteri Kabinet Kerja. Indroyono sebelumnya menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Perikanan dan Akuakultur Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di Roma, Italia.
Indroyono menempuh jenjang pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung, Jurusan Teknik Geologi tahun 1979, jenjang pendidikan S2 di Universitas Michigan, Amerika Serikat untuk Jurusan Penginderaan Jauh pada tahun 1981, dan jenjang pend

idikan S3 di Universitas Iowa, Amerika Serikat di Jurusan Geologi Penginderaan Jauh tahun 1987. Indroyono Soesilo lahir di Cilacap, Jawa Tengah.
4. Menteri Perhubungan: Ignasius Jonan
Presiden Jokowi menunjuk Ignatius Jonan sebagai Menteri Perhubungan. Jonan, yang lahir pada 21 Juni 1963 di Singapura, saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia.
5. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti
Presiden Joko Widodo menunjuk Susi Pudjiastuti untuk menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan. Jokowi menilai, pengusaha sekaligus pemilik PT ASI Pudjiastuti Marine Product itu sebagai pekerja keras. Susi Pudjiastuti lahir di Pangandaran, 15 Januari 1965 (49 tahun). Dia adalah pengusaha pemilik dan Presdir PT ASI Pudjiastuti Marine Product, eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation, atau penerbangan Susi Air dari Jawa Barat.
Hingga awal 2012, Susi Air diketahui memiliki 46 pesawat dengan berbagai tipe seperti Cessna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter dan Piaggio P180 Avanti. Susi Air mempekerjakan 179 pilot, dengan 175 di antaranya merupakan pilot asing. 2012, Susi Air menerima pendapatan Rp300 Miliar dan melayani 200 penerbangan perintis.
Meski tak tamat Sekolah Menengah Atas, Susi ternyata menerima banyak penghargaan antara lain Pelopor Wisata dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, serta Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia.
Tahun 2006, ia menerima Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006 dari Metro TV, Indonesia Berprestasi Award 2009 dari PT Exelcomindo. Kemudian, pada 2008, ia mengembangkan bisnis aviasinya dengan membuka sekolah pilot Susi Flying School melalui PT ASI Pudjiastuti Flying School.
6. Menteri Pariwisata: Arief Yahya
Arief Yahya, Menteri Pariwisata pada Kabinet Kerja Jokowi-JK ini sebelumnya dikenal sebagai CEO PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. Sebelum menjadi orang nomor 1 di PT Telkom, tepatnya sejak Mei 2012, pria kelahiran Banyuwangi (Jawa Timur),  2 April 1961, ini menduduki jabatan sebagai Direktur Enterprise dan Wholesale Telkom Indonesia semenjak tahun 2005. Ketika duduk di jabatan ini, Arief memperoleh beberapa penghargaan. Antara lain Satyalencana Pembangunan di tahun 2006 atas keberhasilan dalam Peningkatan Pelayanan Prima di Kalimantan dan Jawa Timur dari Presiden RI.
Di tahun yang sama, Arief juga masuk dalam daftar ”25 Business Future Leader” versi majalah Swa. Arief juga terpilih sebagai penerima Economic Challenge Award 2012 kategori Industri Telekomunikasi, penerima Anugerah Business Review 2012 dari majalah Business Review. Terakhir, Arief terpilih sebagai The CEO BUMN Inovatif Terbaik 2012.
Prestasi yang diraih Arief ini juga berbanding dengan prestasi yang diraih Telkom. Pendapatan Telkom sampai dengan September 2012 tercatat sebesar Rp 56,864 triliun. Sedangkan labanya sebesar Rp 14,11 triliun.
7. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM): Sudirman Said
Sudirman Said ditunjuk Presiden Jokowi sebagai menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM). Sudirman bukan orang baru di jajaran pemerintahan. Dia pernah menduduki sejumlah posisi penting, di antaranya Direktur Utama PT Pindad, pada 4 Juni 2014. Sebelumnya, dia dipercaya sebagai Wakil Presiden Direktur PT Petrosea Tbk, Group Chief of Human Capital and Corporate Services di PT Indika Energy Tbk, danDirektur Human Capital di Petrosea (2009-2010). Sudirman juga pernah menjabat sebagai Executive Director Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit 2013. Sudirman Said lahir di Brebes, Jawa tengah.
8. Menko Polhukam: Tedjo Puji
Presiden Joko Widodo menunjuk Menkopolhukan Tedjo Edi Purdijatno. Tedjo, yang lahir di Magelang (Jawa Tengah), 20 September 1952, pernah menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut (1 Juli 2008-9 November 2009).
9. Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo
Presiden Joko Widodo menunjuk Tjahjo Kumolo sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019. Pengumuman dilakukan di halaman Istana Negara, Minggu (26/10/2014). Tjahjo Kumolo adalah Sekertaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Tjahjo Kumolo lahir di Surakarta, Jawa Tengah.
10. Menteri Luar Negeri:
Retno Lestari Marsudi
Presiden Joko Widodo menunjuk Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi. Retno, yang lahir Semarang, (Jawa Tengah) pada 27 November 1962, saat ini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda. Retno merupakan menteri luar negeri perempuan pertama di Indonesia.
11. Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu
Ryamizard Ryacudu ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) dalam Kabinet Kerja 2014-2019 oleh Presiden Joko Widodo. Ryamizard lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 21 April 1950, dan dibesarkan dalam keluarga tentara. Ayahnya yang bernama Musanif Ryacudu (almarhum) berpangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI, dan dikenal dekat dengan Presiden RI 1945-1966 Soekarno.
Karir militer Ryamizard mulai mendapat perhatian publik saat memangku jabatan Pangdam V Brawijaya pada 1999 dan diteruskan menjadi Pangdam Jaya di tahun yang sama. Selepas dari Kodam Jaya, Ryamizard mendapat promosi bintang tiga sebagai Panglima Kostrad pada 2000-2002 dan menjadi Kasad 2002-2005. Meski dinilai sangat irit ketika bicara soal politik, alumni pendidikan militer Akabri Darat tahun 1974 itu berkomitmen menjadi seorang prajurit sejati yang profesional.
12. Menteri Hukum Dan HAM: Yasonna Laoly
Presiden Joko Widodo menunjuk Yasonna Hamonangan Laoly sebagai Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly. Yasonna, yang lahir di Tapanuli Tengah (Sumatra Utara), 27 Mei 1953, adalah anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 2009-2014.
13. Menteri Komunikasi dan Informatika: Rudiantara
Jokowi menunjuk Rudiantara sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) dalam kabinetnya. Rudiantara menyisihkan nama-nama lain yang sempat disebut-sebut bakal menjadi Menkominfo, seperti Niken Widiastuti (Dirut RRI), Richardus Eko Indrajit (Ketua APTIKOM), Gatot S. Dewa Broto (Deputi Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kemenpora, Mantan Humas Kemenkomifo) ataupun Onno W. Purbo (Akademisi dan Praktisi TI).
Rudiantara adalah sosok kawakan di industri telekomunikasi. Pria kelahiran Bogor (Jawa Barat), 3 Mei 1959 ini pernah berkarir di Indosat, Telkomsel, Excelcomindo (kini XL Axiata) dan Telkom. Rudiantara terakhir masih tercatat sebagai salah satu komisaris Indosat.
Sebagai Menteri Kominfo, Rudiantara akan menghadapi tugas berat membereskan permasalahan TI di Indonesia hingga lima tahun ke depan. Tantangan yang akan dihadapi antara lain peningkatan infrastruktur dan kecepatan internet dan tata kelola frekuensi di Indonesia.
14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yudi Chirsnady
Presiden Jokowi menunjuk Yuddy Chrisnandi sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Pengumuman dilakukan di halaman Istana Negara, Minggu (26/10/2014). Yuddy lahir di Bandung (Jawa Barat), 29 Mei 1968. Jabatan terakhirnya adalah Ketua DPP Partai Hanura.
15. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Sofjan Djalil
Presiden Jokowi menunjuk Sofyan Djalil sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019. Pengumuman dilakukan di halaman Istana Negara, Minggu (26/10/2014).
Sofyan lahir di Nanggroe Aceh Darussalam, 23 September 1953. Dia pernah menjabat sebagai menteri dalam dua periode, yaitu Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2005), Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu (2005-2007), - Menteri Negara BUMN Kabinet Indonesia Bersatu (2007).
16. Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro
Presiden Joko Widodo menunjuk Prof Dr Bambang Brodjonegoro sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Kerja periode 2014-2019 pada pengumuman resmi di Istana Merdeka Jakarta, Minggu. Pria yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu ekonomi regional, desentralisasi fiskal, keuangan negara, ekonomi pembangunan, ekonomi perkotaan dan transportasi serta analisis pengambilan keputusan dianggap layak untuk menempati jabatan strategis ini.
Bambang Brodjonegoro lahir di Jakarta pada 3 Oktober 1966, merupakan alumnus FE UI jurusan Studi Pembangunan pada 1990 serta memperoleh gelar Master (M.Sc) pada 1995 untuk jurusan Urban Planning dan Doktor (Ph.D) pada 1997 untuk jurusan Regional Science dari University of Illinois at Urbana Champaign, Amerika Serikat.
Mahasiswa berprestasi UI pada 1989 ini telah menerbitkan beberapa karya tulis diantaranya buku yang diterbitkan oleh The Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapura dan oleh Edward Elgar, Inggris. Selain itu, artikel yang muncul dalam beberapa jurnal internasional, antara lain di Hitotsubashi Journal of Economics.
17. Menteri BUMN: Rini Soemarno
Rini Soemarno ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN) pada pengumuman Kabinet Kerja periode 2014-2019 di Istana Merdeka Jakarta, Minggu. Rini yang lahir di Maryland, Amerika Serikat pada 9 Juni 1958 itu sebelumnya dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Staf Tim Transisi pada masa kampanye dengan bantuan empat deputi, yakni Andi Widjajanto, Hasto Kristiyanto, Anies Baswedan dan Akbar Faisal.
Mengutip berbagai sumber, ibu dari tiga orang anak ini pernah menjabat sebagai Presiden Dirur PT. Semesta Citra Motorindo, Presiden Direktur PT. Astrea Internasional, Presiden Komisaris PT. Semesta Citra Motorindo, Komisaris PT. Agrakom dan lainnya. Ia juga pernah menjadi Wakil Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasionl (BPPN), Jakarta pada 1998.
Rini yang menyelesaikan pendidikan sarjana pada Fakultas Ekonomi, Wellesly College Massachusetts, Amerika Serikat pada 1981 itu turut terlibat sebagai Ketua Yayasan Dharma Bhakti Astra, Penasihat Ahli Keuangan Koperasi Pegawai Negeri, khususnya pada Bank Kesejahteraan Ekonomi. Selain itu, dia juga pernah mendapat penghargaan Pemimpin Puncak Terpuji pada 1995 dari Majalah Swa Sembada.
18. Menteri Koperasi dan UKM: Aagn Puspayoga
Presiden Joko Widodo menunjuk Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga sebagai Menteri Koperasi dan UKM . Gede, yang lahir di Denpasar (Bali), 7 Juli 1965, pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali (2008-2013) dan saat ini mengajar di Universitas Ngurah Rai.
19. Menteri Perindustrian: Saleh Husin
Presiden Joko Widodo menunjuk Saleh Husein sebagai Menteri Perindustrian. Saat ini, Saleh, yang lahir di Rote Ndao (NTT), 16 September 1963, menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura Saleh Husein.
20. Menteri Perdagangan: Rahmat Gobel
Presiden Joko Widodo menunjuk Rahmat Gobel sebagai Menteri Perdagangan pada Kabinet Kerja 2014-2019 di Istana Merdeka Jakarta, Minggu. Penunjukkan Rahmat sebagai Menteri Perdagangan sudah diduga sebelumnya. Oleh Presiden Joko Widodo, ia dinilai seorang yang berpengalaman untuk bidang perdagangan dan industri. Saat ini, Rahmat yang lahir di Jakarta, 3 September 1962 ini menjabat Presiden Direktur PT. Panasonic Gobel Group yang sebelumnya bernama PT. Gobel International.
21. Menteri Pertanian: Amran Sulaeman
Presiden Joko Widodo menunjuk Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian. Saat ini, Amran, yang lahir di Bone, 27 April 1968, menjabat sebagai Presiden Direktur PT Tiran Group.
22. Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dakhiri
Muhammad Hanid Dhakiri ditunjuk sebagai Menteri Ketenagakerjaan dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019. Pria kelahiran 6 Juni 1972 ini menggantikan Armida Alisjahbana sebagai Pelaksana Tugas Menter Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada kabinet Indonesia Bersatu II periode 2009-2014 era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
Mengutip berbagai sumber, ia setia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak partai tersebut diebntuk pada 1998 dan ia telah menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI dan menjadi anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah periode 2009-2014.
Presiden Joko Widodo menunjuk Hanif Dhakiri sebagai Menteri Ketenagakerjaan dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019. Pengumuman dilakukan di halaman Istana Negara, Minggu (26/10/2014). Hanif lahir di Semarang, 6 Juni 1972. Dalam pemilu legislatif 2014, Hanif terpilih sebagai anggota DPR RI.
23. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuk Hadimuljono
Presiden Joko Widodo menunjuk Basuk Hadimuljono sebagai Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat. Menurut Jokowi, Basuki adalah Profesional dan pakar di bidangnya. Basuki meraih gelar Sarjana (S1) Teknik Geologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan memperoleh gelar Magister (S2) serta Doktor (S3) Teknik Sipil dari Colorado State University, Amerika Serikat.
Rekam jejaknya di Kementerian Pekerjaan Umum, terhitung panjang. Basuki sempat menjabat sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum periode 2005–2007, sebelum menempati posisi sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum periode 2007–2013. Sejak 2013 dia menjabat sebagai Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum hingga saat ini. Basuki Hadi Muljono lahir di Surakarta, Jawa Tengah.
24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
Presiden Joko Widood menunjuk Siti Nurbaya sebagai Lingkungan Hidup Dan Kehutanan. Lahir di Jakarta, 28 Agustus 1965, Siti memulai jenjang kariernya sebagai pegawai negeri sipil ketika menjalankan tugas sebagai penata muda di Pemerintah Provinsi Lampung pada 1979.
Kariernya terus mananjak sejak bertugas di Kementerian Dalam Negeri sampai menjabat sekretaris jenderal. Pada 2006, Siti Nurbaya ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI. DPD adalah lembaga baru yang dibentuk untuk menjembatani kepentingan legislatif pemerintah provinsi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.
Sisi lain dari politikus Nasdem ini adalah lugas dan tidak mentoleransi diskriminasi. Baginya, perempuan harus menentukan pijakannya sendiri. Siti mengimbau perempuan hendaknya tidak lagi berkilah dengan alasan adanya diskriminasi. Menurut Siti, perempuan harus menjunjung tinggi emansipasi perempuan.
25. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry M. Baldan
Presiden Joko Widodo menunjuk Ferry M. Baldan sebagai Menteri Agraria Dan Tata Ruang. Ferry yang lahir di Jakarta, 16 Juni 1961, menurut Jokowi, merupakan profesional yang menguasai bidang agraria dan tata ruang.
Ferry merupakan anak kedua dari empat bersaudara, putera pasangan Baldan Nyak Oepin Arif dan Syarifah Fatimah yang berasal dari Aceh dan lama bermukim di Bandung, Jawa Barat. Sebelum ditunjuk Jokowi menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry merupakan fungsionaris dan sempat menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Nasional Demokrat (Nasdem).
26. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan: Puan Maharani

Presiden Joko Widodo menunjuk Puan Maharani sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Sosial Budaya dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019. Pengumuman dilakukan di halaman Istana Negara, Minggu (26/10/2014). Puan lahir di Jakarta, 6 September 1973. Puan terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2014-2019.
27. Menteri Agama: Lukman Hakim Saefudin
Presiden Joko Widodo menunjuk Lukman Hakim sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Kerja periode 2014-2019. Pengumuman dilakukan di halaman Istana Negara, Minggu (26/10/2014).
Dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang dipimpin oleh Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, Lukman yang lahir di Jakarta, 25 November 1962, ini sempat menjabat sebagai Menteri Agama sejak 9 Juni lalu. Jokowi kembali mempercayakan posisi itu kepada politikus PPP ini dalam kabinetnya.
28. Menteri Kesehatan: Nila F. Moeloek
Presiden Joko Widodo menunjuk Nila Djuwita Anfasa Moeloek sebagai Menteri Kesehatan. Saat ini, Nila, yang lahir di Jakarta pada 11 April 1949, menjabat sebagai Utusan Indonesia untuk Urusan MDGs.
29. Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa
Presiden Joko Widodo menunjuk Khofifah Indar Parawansa sebagai Menteri Sosial. Khofifa, yang lahir di Surabaya (Jawa Timur), 19 Mei 1965, adalah mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Yohana Yembise
Presiden Jokowi mengumumkan nama-nama menterinya dalam Kabinet Kerja di Halaman Belakang Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014). Nama Yohana Yembise muncul sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau Menteri PP dan PA.
Yembise lahir di Manokwari, Papua, 1 Oktober 1958.  Dia menjadi wanita Papua pertama yang bergelar profesor. Sebelum didaulat menjadi profesor, ia memiliki segudang pengalaman dan jabatan dalam pekerjaan. Istri dari Leo Danuwira ini menempuh pendidikan pertamanya di Sekolah Dasar (SD) Padang Bulan Jayapura. Lalu, ia melanjutkan ke SMP Negeri 1 Nabire dan kemudian duduk di SMA Negeri Persiapan Nabire.
Selepas SMA, Yohana menimba ilmu di program studi bahasa Inggris jurusan pendidikan bahasa dan seni FKIP Uncen. Pada 1994, ia menyelesaikan pendidikan di Faculty of Education, Simom Fraser University British Colombia Canada dengan gelar Master of Art (MA). Segudang pengalaman organisasi juga dialami Yembise. Pernah menjadi Wakil Ketua KNPI Kabupaten Paniai tahun 1984. Berkat itu, perempuan Biak ini menerima ratusan penghargaan dari berbagai pihak.
Salah satunya ialah menerima surat tanda penghargaan pernyataan lulus seleksi sebagai mahasiswa teladan sejak 1981-1982 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Bukan hanya itu sejak masih kuliah termasuk salah satu peserta pertukaran pemuda antara Indonesia dan Kanada. Yohana Yembise juga terpilih mewakili Papua bersama pemuda Indonesia ke Kanada.
31. Menteri Bud Dikdasmen: Anies Baswedan
Presiden Joko "Jokowi" Widodo menunjuk Anies Baswedan sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Menteri Bud Dikdasmen). Anies, yang lahir di Kuningan (Jaawa Barat), 7 Mei 1969, adalah Rektor Universitas Paramadina.
32. Menteri Ristek Dikti: M Nasir
Presiden Joko Widodo menunjuk Prof. Muhammad Nasir sebagai Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi periode 2014-2019. Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah ini menggantikan Gusti Muhammad Hatta yang menjabat Menteri Riset dan Teknologi pada Kabinet Indonesia Bersatu II era pemerintahan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Penunjukkan profesor di bidang "Behavioral Accounting dan Management Accounting" ini sudah diduga, karena dia termasuk salah satu tokoh yang sebelumnya dipanggil Presiden Jokowi ke Istana Merdeka pada Kamis (23/10). Dari berbagai sumber disebutkan bahwa pendidikan ayah dari empat anak ini, antara lain menyelesaikan S1-nya di Undip, kemudian S2-nya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan meraih gelar PhD-nya di University Sains Malaysia tahun 2004.
Pria kelahiran 27 Juni 1960 (54 tahun) di Ngawi, Jawa Timur itu dikenal beberapa kalangan sebagai ahli di bidang anggaran, dan pernah mengkritisi sistem penganggaran berbasis kinerja karena kenyataannya konsep tersebut sangat sulit diterapkan. Nasir, sebelumnya terpilih sebagai Rektor Undip periode 2014-2018 dalam pemilihan rektor yang dilakukan secara pemungutan suara dengan memperoleh suara sebanyak 148 suara.
Rencananya ia akan dilantik sebagai rektor pada 18 Desember 2014 menggantikan Prof Sudharto yang akan berakhir masa jabatannya Desember tahun ini. Pria yang mempunyai motto hidup "ingin bermanfaat untuk orang lain" ini juga aktif dalam pengembangan pendidikan dan telah mendirikan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di rumahnya sejak tiga tahun lalu.
33. Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi
Presiden Joko Widodo menunjuk Imam Nahrawi sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga. Imam, yang lahir di Bangkalan Pulau Madura (Jawa Timur), 8 Juli 1973, adalah anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa 2014 - 2019.
34. Menteri PDT dan Transmigrasi: Marwan Jafar
Marwan Jafar ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi di Kabinet Kerja periode 2014-2019. Marawan yang lahir di Pati (Jawa Tengah),12 Maret 1971, adalah Politisi Partai Kebangkitan Bangsa.


Jumat, 24 Oktober 2014

Kisah Nyata Malam Pesta Seorang Pengantin Wanita


Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi. “Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.” Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.” Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu” Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu!.........Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu. Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya. Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Robb-nya! Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.
Pilih Surga/Neraka, Jika masih Sengaja Menunda Sholat.


Kamis, 23 Oktober 2014

Penyesalan Tidak Akan Pernah Mengembalikan Waktu


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.