• My Little Family
  • Gedung Marba yang ikonik di Kota Lama, Semarang - Jawa Tengah.
  • Pesona kabut menjelang sore di Danau Tondok, Kotamobagu - Sulawesi Utara.
  • Rehat sejenak di Mesjid Al-Falah Sragen yg terkenal dg pelayanan prima kepada Jamaah dan Musafir.
  • Mengisi liburan dengan memanjakan anak bermain Snow Word.

Senin, 12 Januari 2026

Memahami Perbedaan Saham dan Obligasi: Investasi yang Tepat Untuk Anda

Dalam dunia investasi, saham dan obligasi adalah dua instrumen keuangan yang paling umum digunakan, namun keduanya memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda.


Saham mewakili kepemilikan di sebuah perusahaan, memberikan potensi keuntungan melalui dividen dan apresiasi nilai, tetapi juga membawa risiko kerugian yang lebih tinggi. Di sisi lain, obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan, menawarkan pendapatan tetap dengan risiko yang lebih rendah. 

Memahami perbedaan mendasar antara keduanya sangat penting bagi investor untuk menentukan strategi investasi yang sesuai dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko mereka. Mari kita eksplorasi lebih dalam mengenai kedua instrumen ini dan temukan pilihan investasi yang tepat untuk Anda.

Berikut adalah perbedaan utama antara saham dan obligasi:

1. Definisi

Saham: Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan seseorang atau entitas dalam suatu perusahaan. Pemegang saham berhak atas bagian dari keuntungan perusahaan, biasanya dalam bentuk dividen, serta hak suara dalam rapat pemegang saham.

Obligasi: Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk mengumpulkan dana. Pemegang obligasi adalah kreditor yang berhak menerima pembayaran bunga secara berkala dan pengembalian pokok pada saat jatuh tempo.

2. Kepemilikan

Saham: Memiliki saham berarti Anda memiliki sebagian dari perusahaan. Ini memberikan hak suara dan partisipasi dalam keputusan perusahaan.

Obligasi: Memiliki obligasi berarti Anda meminjamkan uang kepada penerbit obligasi. Anda tidak memiliki bagian dari perusahaan, dan tidak memiliki hak suara.

3. Pendapatan

Saham: Pendapatan dari saham berasal dari dividen dan apresiasi nilai saham. Namun, dividen tidak dijamin dan bisa bervariasi.

Obligasi: Pendapatan dari obligasi berasal dari pembayaran bunga yang tetap (kupon) dan pengembalian pokok pada saat jatuh tempo. Pembayaran bunga biasanya lebih stabil dan dapat diprediksi.

4. Risiko

Saham: Saham memiliki risiko yang lebih tinggi karena nilai saham dapat berfluktuasi secara signifikan tergantung pada kinerja perusahaan dan kondisi pasar. Potensi keuntungan juga lebih tinggi.

Obligasi: Obligasi dianggap lebih aman dibandingkan saham, tetapi masih memiliki risiko, seperti risiko gagal bayar (default) dan risiko suku bunga. Imbal hasilnya biasanya lebih rendah dibandingkan saham.

5. Jangka Waktu

Saham: Saham tidak memiliki jangka waktu tertentu. Investor dapat memegang saham selama yang mereka inginkan.

Obligasi: Obligasi memiliki jangka waktu tertentu, biasanya dari beberapa tahun hingga beberapa dekade. Setelah jatuh tempo, obligasi akan dilunasi.

6. Pengaruh Ekonomi

Saham: Nilai saham sangat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan dan kondisi pasar secara keseluruhan.

Obligasi: Nilai obligasi dipengaruhi oleh suku bunga, inflasi, dan kondisi ekonomi. Ketika suku bunga naik, nilai obligasi yang ada cenderung turun.

7. Tujuan Investasi

Saham: Cocok untuk investor yang mencari pertumbuhan jangka panjang dan bersedia mengambil risiko lebih tinggi.

Obligasi: Cocok untuk investor yang mencari pendapatan tetap dan stabilitas, serta bersedia menerima imbal hasil yang lebih rendah.

Dengan memahami perbedaan ini, investor dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam memilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan dan toleransi risiko mereka.

Sebelum memilih untuk berinvetasi di Saham atau Obligasi, ada beberapa saran agar investor harus mempertimbangkan dulu antara tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan toleransi risiko sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam saham atau obligasi. Diversifikasi portofolio dengan menggabungkan kedua instrumen ini dapat membantu mengurangi risiko dan meningkatkan potensi imbal hasil.

Dengan semakin banyaknya informasi dan sumber daya yang tersedia, investor di Indonesia diharapkan dapat membuat keputusan yang lebih cerdas dan terinformasi. Memahami perbedaan antara saham dan obligasi adalah langkah awal yang penting dalam perjalanan investasi yang sukses.

Sumber : Media online, FEB UNIKAMA

Sabtu, 10 Januari 2026

Leif Erikson, Penjelajah yang Menyatukan Bangsa Nordik

Di Eropa terdapat negera-negara yang menamakanan dirinya sebagai Nordik. Wilayahnya memanjang dari Eropa timur hingga Atlantik utara, mulai dari Finlandia, Norwegia, Denmark, Swedia, Norwegia, Ăƒ…land, Svalbard, Kepulauan Faroe, hingga Islandia.

Sejarah Nordik yang kadang bersinonim dengan nama Skandinavia memiliki sejarah bersama selama lebih dari satu milenium mulai dari Leif Erikson hingga pembentukan Dewan Nordik. Selama perjalanan itu diwarnai dengan masa-masa persahabatan dan pertikaian.

Setelah kenyang dengan pertikaian, akhirnya selama abad terakhir negara-negara Nordik itu telah semakin dekat satu sama lain melalui pemahaman lintas budaya dan penerimaan terhadap perbedaan satu sama lain.

Ketika Leif Erikson yang dijuluki "Si Beruntung" berlayar dari pantai barat Greenland pada 1002, ia hampir tidak dapat membayangkan bahwa perjalanannya akan terukir dalam sejarah. Erikson merupakan semacam simbol wilayah Nordik yang telah menikmati masa khusus komunitas lintas batas sejak zaman Viking.

Ia lahir di Islandia, tumbuh di Greenland, dan menghabiskan beberapa tahun masa mudanya di Norwegia. Erikson adalah seorang kosmopolitan Nordik, dan pada 1003, ia dan kapalnya mencapai benua Amerika tepatnya di Vinland, atau Newfoundland yang menjadi bagian dari negara Kanada saat ini.

Penjelajahan itu membuatnya dikenal sebagai orang Eropa pertama yang menginjak pantai Amerika, jauh sebelum sebelum Christopher Columbus. Selama masa Erikson, sebagian besar wilayah Nordik menjadi kerajaan bersatu untuk pertama kalinya, yang sejak itu disebut Kerajaan Norwegia.

Raja-raja Norwegia secara bertahap menguasai Kepulauan Faroe, Islandia, dan Greenland, dan berinteraksi erat dengan raja-raja Viking dari Swedia dan Denmark. Bangsa Viking Nordik tidak hanya mencapai Kanada, tetapi juga kota-kota jauh di Russia dan dunia Mediterania.

Laman norden.org menyebut, meskipun bangsa Viking kemudian digambarkan sebagai orang-orang yang haus darah dan suka berkonflik, mereka pada dasarnya adalah pedagang pelaut dan petani yang baik. Di negaranya mereka memelihara ternak dan mengolah tanah. Dengan cara ini bangsa Viking membantu memodernisasi wilayah Nordik pada pergantian millennium. Sejak itu wilayah Nordik juga menjadi lebih dekat secara budaya dengan Eropa.

Kekristenan membawa aliran budaya baru ke Wilayah Nordik. Gereja-gereja besar seperti katedral di Stavanger dan Ribe dibangun, seperti juga biara dan keuskupan sejauh Greenland Barat. Kota-kota pasar didirikan, kastil-kastil dibangun, dan kebiasaan makan serta tren mode baru diperkenalkan berkat perdagangan yang berkembang dengan kota-kota dan negara-negara di selatan.

Selatan tidak hanya menyediakan rangsangan baru yang menarik, tetapi juga penyakit, seperti Wabah Hitam. Penyakit menular ini memiliki konsekuensi serius. Bahkan hampir memusnahkan populasi Norwegia dan Islandia.

Namun tidak jelas apakah wabah tersebut yang memicu kematian orang-orang Greenland Nordik, tetapi dapat diketahui adalah peradaban Nordik di Greenland Barat punah pada awal abad kelima belas. Baru setelah tiga abad berlalu, kontak dipulihkan antara Greenland dan seluruh Wilayah Nordik.

Selama Abad Pertengahan, posisi wilayah Nordik sebagai entitas budaya, ekonomi, dan politik ditegaskan kembali. Pada 1397, Denmark, Norwegia, dan Swedia bergabung untuk membentuk Persatuan Kalmar yang pada dasarnya merupakan Kekaisaran Nordik.

Persatuan ini juga mencakup wilayah jajahan Norwegia di seberang lautan, yaitu Shetland, Kepulauan Orkney, Kepulauan Faroe, dan Islandia, serta Aland dan Finlandia, yang berada di bawah kekuasaan Swedia selama Abad Pertengahan. Peta Persatuan Kalmar secara kasar menyerupai peta wilayah Nordik yang dikenal saat ini.

Persatuan antara negara-negara Nordik relatif kuat pada tahun-tahun awalnya. Namun ikatan mereka perlahan-lahan melemah dan dirundung pertikaian internal antara Denmark dan Norwegia di satu pihak dan Finlandia dan Swedia di pihak lain.

Persatuan Kalmar akhirnya terpecah di tengah jalan, yang diikuti oleh periode kerusuhan yang diperparah oleh pertumpahan darah Stockholm yang terkenal pada 1520. Saat itu Raja Denmark, Christian II, memerintahkan sekelompok besar bangsawan dan warga negara terkemuka lainnya untuk dieksekusi di ibu kota Swedia dalam upaya mempertahankan kekuasaan atas Swedia.

Koloni dan Perang

Pada akhir Abad Pertengahan dan Renaisans, sebagian besar Wilayah Nordik tertinggal dari negara-negara Eropa lainnya dalam banyak hal. Namun, selama periode yang sama Swedia berkembang menjadi kekuatan besar Eropa, menguasai sebagian besar wilayah Baltik, termasuk sebagian besar negara Baltik saat ini dan sebagian wilayah Jerman dan Polandia saat ini.

Finlandia juga tetap menjadi bagian dari kerajaan Swedia. Pada masa kolonialisme, Denmark-Norwegia mencoba peruntungannya sebagai kekuatan penjajah dengan mengambil alih Trankebar di India, sebagian wilayah Ghana saat ini di Afrika. Tiga pulau Karibia, St Thomas, St Jan, dan St Croix. St Croix merupakan wilayah jajahan Denmark hingga tahun 1917.

Meskipun memiliki ambisi ini, kawasan Nordik berada di bawah bayang-bayang negara-kota yang berkembang pesat di selatan dan kekuatan angkatan laut seperti Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris, yang mulai menguasai dunia dan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan Eropa.

Baik Denmark-Norwegia maupun Swedia-Finlandia tidak akan memiliki peran yang berpengaruh. Sebaliknya, negara-negara yang pernah bersatu itu berperang satu sama lain dalam upaya untuk mendapatkan kendali penuh atas kawasan Nordik yang bersatu.

Sementara itu perang telah melelahkan dan secara umum menguntungkan Swedia. Pertama-tama, Denmark harus menyerahkan Skane, Halland, dan Blekinge yang hijau dan berkembang dengan baik kepada Swedia. Pada 1814, seluruh Norwegia diserahkan kepada Swedia, yang baru saja kehilangan Finlandia kepada musuh bebuyutannya yang lain yaitu Russia. Denmark tetap memegang kendali atas Islandia, Kepulauan Faroe, dan Greenland, yang sementara itu telah dijajah.

Denmark dan Swedia mengubur kapak perang selama abad kesembilan belas. Meskipun kedua negara tersebut kemudian menjadi kecil menurut standar Eropa, negara-negara besar Eropa memandang kemerdekaan negara-negara ini sebagai hal yang menguntungkan secara strategis.

Ada kebutuhan untuk menjadi penyangga antara negara-negara besar seperti Russia, Prusia, Prancis, dan Inggris. Keuntungan dari hadirnya kekuatan-kekuatan itu Laut Baltik tidak dikendalikan oleh satu kekuatan tunggal.

Kemiskinan yang meluas menjadi ciri khas Nordik pada paruh pertama abad kesembilan belas. Banyak orang tergoda oleh prospek kehidupan yang lebih baik di Amerika dan beremigrasi. Namun industrialisasi yang berkembang seperti industri berat, pertambangan, dan pembuatan kapal bermunculan di sebagian besar wilayah Nordik.

3 Strategi Rahasia Gengis Khan Menjadi Senjata Mematikan Menaklukkan Dunia

Senjata rahasia Genghis Khan bukanlah kuda atau panah busur komposit, tapi sesuatu yang lebih "gila": strategi perang psikologis dan organisasi militer yang sangat modern. Saat musuh-musuhnya masih sibuk dengan perang gaya abad pertengahan yang lambat, Genghis Khan sudah main "catur" dengan kecerdasan, kecepatan, dan disiplin tinggi.
Ada tiga strategi yang menjadi "Senjata Rahasia" Gengis Khan :

1. Logistik dan Intelijen Super Cepat

Pasukan Mongol dijuluki 'pasukan berkuda' karena kecepatannya. Mereka tidak hanya cepat dalam menyerang, tapi juga dalam mengumpulkan informasi penting tentang musuh, seperti jumlah tentara, kondisi alam, hingga politik internal. Sistem komunikasi mereka yang disebut Yam mirip pos kilat dengan jaringan stasiun kuda yang cepat memastikan perintah dan data intelijen bisa bergerak ratusan kilometer dalam sehari. Mongol juga mahir menggunakan para insinyur dan ahli pengepungan dari bangsa-bangsa taklukan (seperti Tiongkok) untuk membangun mesin perang canggih seperti ketapel dan mesin pengepungan, sebuah adaptasi yang sangat revolusioner.

2. Disiplin Militer dan Meritokrasi Ketat

Genghis Khan menghapus sistem feodal kesukuan lama dan menggantinya dengan sistem meritokrasi, di mana promosi didasarkan pada kemampuan dan kesetiaan, bukan garis keturunan. Disiplin dalam pasukannya sangat keras; pelanggaran kecil bisa dihukum mati, dan ini berlaku untuk semua, dari prajurit hingga jenderal. Sistem desimal (pasukan dibagi menjadi unit 10, 100, 1.000, dan 10.000) membuat komando menjadi jelas dan mudah dikontrol, memungkinkan manuver super cepat di medan perang.

3. Feigned Retreat (taktik pura-pura mundur)

Merupakan taktik Deception dan Teror Psikologis, mungkin ini yang paling mengerikan. Pasukan kavaleri ringan Mongol akan pura-pura kalah dan mundur untuk memancing musuh keluar dari barisan mereka yang aman, lalu tiba-tiba berbalik dan menghancurkan mereka dengan badai panah saat musuh sudah kocar-kacir. Selain itu, ia menggunakan strategi "perang psikologis." Dengan menyebarkan desas-desus tentang kekejaman Mongol yang berlebihan, banyak kota yang memilih menyerah tanpa perlawanan sama sekali, menghemat waktu dan darah Mongol.

Singkatnya, Genghis Khan berhasil menaklukkan sebagian besar dunia yang dikenal saat itu bukan karena dia punya pedang terkuat, tetapi karena dia punya otak paling cerdas, sistem yang paling terstruktur, dan disiplin yang tak tertandingi. Kecepatan, adaptasi, dan teror adalah trisula yang benar-benar mengubah peta dunia. Jadi, apakah kecerdasan logistik dan psikologis ini masih relevan untuk para pemimpin zaman sekarang?

#GenghisKhan #StrategiPerang #KekaisaranMongol #SejarahDunia #TaktikMiliter

Data diolah dari berbagai sumber antara lain : Amicus Travel Mongolia, World History Encyclopedia, Medium, Grid.ID, Gesuri.id

---
Senjata Rahasia Genghis Khan: Disiplin, Intel & Teror

Misteri Hilangnya 50.000 Pasukan Persia

Peristirahatan terakhir dari 50.000 tentara Persia yang kuat yang ditelan badai pasir dahsyat di Gurun Sahara sekitar 524 SM adalah salah satu misteri terbesar dalam sejarah kuno.


Selama bertahun-tahun, banyak teori yang mengklaim telah menemukan tentara yang hilang. Tapi sebagian besar terbukti bohong.

Dilansir dari Ancient Origins, pada tahun 2014, seorang arkeolog Belanda mengklaim telah memecahkan misteri apa yang terjadi pada tentara naas sekitar 2.500 tahun yang lalu.

Menurut sejarawan Yunani Herodotus, Cambyses II, putra tertua Cyrus Agung, Raja Persia, mengirim pasukannya untuk menghancurkan Oracle Amun di Siwa Oasis setelah para imam di sana menolak untuk melegitimasi klaimnya ke Mesir.

Pasukan 50.000 pria memasuki gurun barat Mesir dekat Luxor tetapi setengah jalan, badai pasir besar muncul dan dilaporkan mengubur mereka semua. 

Angin bertiup dari selatan, kuat dan mematikan, membawa tornado-tornado besar pasir yang berputar-putar, seluruhnya menyapu pasukan dan melenyapkannya," tulis Herodotus.

Meskipun banyak ahli sejarah Mesir menganggap kisah itu sebagai mitos, banyak ekspedisi telah terjadi untuk mencari sisa-sisa prajurit yang hilang.

Sebagian besar kembali dengan tangan kosong, sementara yang lain mengaku menemukan jasadnya yang kemudian terbukti palsu.

Pada 2009, dua arkeolog Italia mengumumkan bahwa mereka menemukan jasad manusia, peralatan, dan senjata di dekat Oasis Siwa di Mesir yang berasal dari zaman ketika tentara menghilang.

Namun, ini juga dipertanyakan oleh banyak sarjana dan disebut berdasarkan fakta bahwa mereka memilih untuk mengumumkannya dalam film dokumenter daripada jurnal ilmiah.

Selain itu, kedua peneliti tersebut adalah pembuat film yang memproduksi lima syoktoral Afrika yang kontroversial pada 1970-an.

Profesor Olaf Kaper, seorang arkeolog di Leiden University di Belanda, percaya dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pasukan yang hilang.

"Beberapa berharap menemukan seluruh pasukan, lengkap. "Namun, pengalaman telah lama menunjukkan bahwa Anda tidak bisa mati karena badai pasir," kata Kaper, seperti dilansir Sci-News.

Profesor Kaper berpendapat bahwa pasukan Cambyses II yang hilang tidak hilang, tetapi dikalahkan.

Menurut Kaper, tujuan akhir pasukan adalah Dakhla Oasis - lokasi pasukan pemimpin pemberontak Mesir Petubastis III.

"Dia akhirnya menyergap pasukan Cambyses II, mengalahkannya lalu membiarkan dirinya dinobatkan sebagai Firaun di ibukota, Memphis."

Kaper berpendapat bahwa nasib tentara tetap tidak jelas untuk waktu yang lama karena Raja Persia Darius I, yang mengakhiri pemberontakan Mesir dua tahun setelah kekalahan Cambyses II, menghubungkan kekalahan memalukan pendahulunya dengan badai pasir untuk menyelamatkan muka. Kisah itulah kemudian yang diterima dan dipercaya selama ini.

Penggalian di Dakhla Oasis telah mengungkapkan tanda pemimpin pemberontak Mesir, Petubastis III yang diukir di blok kuil kuno. Hal itu menunjukkan bahwa lokasi tersebut memanglah benteng pada awal periode Persia

Senin, 05 Januari 2026

Marrie Duplessis, Wanita yang Diremehkan Namun Membuat Paris Berduka

Kisah Marie Duplessis. Ia dijual oleh ayahnya pada usia 13 tahun, meninggal pada usia 23 tahun—tetapi di antara kedua usia tersebut, ia menjadi wanita yg membuat Paris bertekuk lutut‼️
Namanya Marie Duplessis. Namun itu bukanlah nama yang diberikan saat ia lahir. Ia lahir dengan nama Alphonsine Rose Plessis pada 15 Januari 1824, di sebuah desa kecil di Normandia, Prancis. 

Ayahnya adalah seorang pecandu alkohol yang kasar. Ibunya—anggota terakhir yang masih hidup dari keluarga bangsawan miskin—melarikan diri ketika Alphonsine masih kecil, mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Paris. Ia meninggal ketika Alphonsine berusia enam tahun. 

Alphonsine sendirian bersama seorang ayah yang tidak menginginkannya. Pada usia 12 tahun, ia diperkosa oleh seorang buruh tani. Keluarga tempat ia tinggal menyalahkannya dan mengirimnya kembali kepada ayahnya. Pada usia 13 tahun, ayahnya menjualnya kepada seorang pria berusia 70-an bernama Plantier, yang tinggal di tempat terpencil. 

Ia melarikan diri. Berkali-kali. Ia berlari ke desa-desa terdekat, mencari pekerjaan di tempat pencucian pakaian atau toko, apa pun untuk bertahan hidup. 

Namun ayahnya terus menemukannya, terus menyeretnya kembali, terus mencoba menjual tenaganya—atau tubuhnya—kepada siapa pun yang mau membayar. 

Pada usia 15 tahun, ia sampai di Paris. Ia kini menjadi yatim piatu, kelaparan, mengenakan pakaian compang-camping, tidur di mana pun ia bisa menemukan tempat. 

Seorang sutradara teater kemudian ingat pernah melihatnya di Pont-Neuf, menatap penuh kerinduan ke sebuah kios kentang goreng. Ia membelikannya seporsi kentang goreng karena kasihan. 

Kurang dari setahun kemudian, ia melihat gadis kelaparan yang sama itu bergandengan tangan dengan seorang bangsawan di Taman Ranelagh. 

Alphonsine telah mengubah dirinya menjadi Marie Duplessis. Ia memilih "Marie" setelah Bunda Maria—sebuah ironi yang disengaja, mungkin, untuk seorang gadis yang telah dirampas kepolosannya sebelum ia mengerti apa itu kepolosan. 

Ia menambahkan "Du" pada nama belakangnya agar terdengar aristokrat. Ia belajar membaca sendiri, belajar berbicara bahasa Prancis tanpa aksen Normandia-nya, mempelajari koran setiap pagi agar ia dapat mendiskusikan peristiwa terkini dengan pria-pria kaya. 

Ia memahami sesuatu yang mendasar: jika dunia memutuskan bahwa ia tidak memiliki nilai selain kecantikannya, ia akan membuat kecantikan itu berharga lebih mahal daripada yang mampu dibeli siapa pun—dan kemudian tetap memaksa mereka untuk membayarnya. 

Pada usia 16 tahun, ia telah mempelajari apa yang dipelajari gadis-gadis cantik lainnya dalam posisinya: pria-pria terkemuka akan memberinya uang, apartemen, perhiasan, kuda—apa pun—untuk menemaninya. 

Ia berhenti bekerja di toko pakaian dengan upah rendah dan menjadi seorang pelacur. Tetapi Marie tidak seperti pelacur lainnya. Ia elegan. Anggun. Cerdas. 

Ia menyelenggarakan salon sastra di apartemennya tempat para politisi, penulis, dan seniman berkumpul—bukan hanya untuk tidur dengannya, tetapi untuk berbicara dengannya. HonorĂ© de Balzac hadir. Ia memiliki tempat duduk khusus untuk malam pembukaan di setiap teater besar. 

Ia mengoleksi karya seni. Ia memiliki 200 buku. Ia mengenakan bunga kamelia—putih ketika ia tersedia, merah ketika ia tidak tersedia. Itu menjadi ciri khasnya. 

Bunga itu tidak berbau, yang sangat cocok untuk seorang wanita yang hidupnya adalah tentang dilihat, bukan dikenal. Franz Liszt—superstar musik internasional pertama, seorang pria yang menyebabkan "Lisztomania" di seluruh Eropa—jatuh cinta padanya. 

Dia ingin membawanya ke Konstantinopel. Dia berjanji akan kembali menjemputnya. Dia tidak pernah melakukannya. 

Alexandre Dumas fils, putra novelis terkenal itu, juga jatuh cinta padanya. Mereka menjalin hubungan selama 11 bulan yang dimulai pada September 1844. 

Dia masih muda, miskin, dan sangat cemburu pada pria-pria yang mampu membiayai Marie. Pada Agustus 1845, Marie sudah muak. Dia tidak pernah memaafkannya. 

Tetapi Marie terus bergerak. Dia menikahi Count Édouard de Perregaux di Inggris pada tahun 1846—pernikahan yang didasarkan pada kepentingan dan tidak diakui secara hukum di Prancis, yang sangat cocok baginya. 

Dia menginginkan akses ke uang dan nama suaminya tanpa harus mengorbankan kebebasannya. 

Karena inilah yang orang lewatkan tentang Marie Duplessis: dia memang boros. Dia berjudi. 

Ia mengenakan pakaian terbaik, menunggang kuda Inggris impor, tinggal di apartemen mewah yang dipenuhi perabotan Louis XV dan tirai sutra. Tetapi ia juga memberi. Dengan murah hati. 

Ia membantu para pelacur lainnya. Ia menyumbang untuk amal. Ketika ia meninggal, para wanita yang telah ia bantu datang ke pemakamannya sambil menangis. Bukan karena ia baik hati dengan cara yang abstrak dan merendahkan—tetapi karena ia mengerti. 

Ia pernah berada di posisi mereka. Dan ia telah membantu mereka ketika ia mampu. Marie hidup seolah-olah ia tahu waktunya singkat. Mungkin memang begitu. Tuberkulosis—"penyakit romantis" pada era itu, penyakit yang membuat Anda batuk darah dan merana dengan indah—sudah membunuhnya. 

Pada tahun 1847, ia menghabiskan lebih banyak waktu di spa kesehatan daripada di Paris, berusaha mati-matian untuk mendapatkan lebih banyak waktu. 

Itu tidak berhasil. Pada tanggal 3 Februari 1847, Marie Duplessis meninggal di apartemennya di Boulevard de la Madeleine. Ia berusia 23 tahun. 

Para juru sita sudah menggeledah apartemen mewahnya untuk melunasi utangnya saat ia menghembuskan napas terakhirnya. Pemakamannya di gereja Madeleine menarik banyak orang. 

Charles Dickens hadir dan kemudian menulis bahwa Paris berduka "seolah-olah Marie adalah Jeanne d'Arc atau pahlawan nasional lainnya, begitu mendalamnya kesedihan umum." 

Dalam beberapa minggu, semua barang miliknya dilelang—perabotan, perhiasan, buku, bahkan burung beo peliharaannya. Warga Paris yang modis datang, bukan untuk menawar, tetapi untuk melihat-lihat.